Pada pertengahan 2025, sebuah studi bersejarah diterbitkan di Journal of Pain and Symptom Management — peringkat paliatif global pertama yang menggunakan kerangka resmi WHO baru, mencakup 201 negara dan wilayah di seluruh dunia.
Hasilnya memberikan gambaran yang jujur tentang seberapa jauh dunia sudah berjalan — dan seberapa jauh yang masih harus ditempuh.
Gambaran Global: Ketimpangan yang Nyata
Dari 201 negara yang dinilai:
- 40% masuk kategori "Emerging" — baru mulai mengembangkan layanan paliatif secara formal
- 28% masuk kategori "Progressing" — memiliki layanan terbatas, masih berkembang
- 17% masuk kategori "Established" — sistem paliatif sudah cukup kuat
- Hanya 14% mencapai level "Advanced" — sistem komprehensif dengan akses luas
Artinya, hampir 70% penduduk dunia tinggal di negara yang sistem paliatinya masih lemah atau baru berkembang.
Dan dari sekitar 73,5 juta orang yang membutuhkan perawatan paliatif di seluruh dunia setiap tahunnya, lebih dari 80% tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah — termasuk negara-negara di Asia Tenggara.
Posisi Indonesia: Kemajuan dan Tantangan
Indonesia adalah negara keempat terbesar di dunia berdasarkan populasi — dengan lebih dari 270 juta jiwa. Jumlah ini berarti jutaan orang yang mungkin membutuhkan paliatif setiap tahunnya.
Kabar baik:
- Pada 2023, Indonesia secara resmi mengakui paliatif sebagai bagian integral dari layanan kesehatan
- Ada rumah sakit-rumah sakit pelopor yang sudah mengembangkan layanan paliatif berkualitas
- Komunitas medis mulai aktif mendorong integrasi paliatif ke kurikulum pendidikan kesehatan
- Atlas Palliative Care in Asia Pacific 2025 mencatat pertumbuhan kesadaran di kalangan tenaga kesehatan Indonesia
Tantangan yang tersisa:
- Layanan paliatif terkonsentrasi di 3 pulau besar — jutaan orang di luar Jawa, Sulawesi, dan Bali praktis tidak punya akses
- Opioid untuk manajemen nyeri yang efektif belum masuk daftar obat esensial nasional
- Tidak ada sistem data nasional yang melacak jumlah pasien yang membutuhkan paliatif
- Kasus kanker diproyeksikan meningkat 63% antara 2025–2040 — tanpa sistem paliatif yang kuat, ini akan menjadi krisis
Pelajaran dari Dunia
Chile baru-baru ini mengesahkan undang-undang paliatif universal pertamanya — menjamin akses bagi semua warga negara, termasuk untuk kondisi non-kanker, dengan anggaran yang direncanakan hingga 2026.
Australia mengembangkan model "Compassionate Communities" yang melibatkan pemerintah daerah, sekolah, dan komunitas agama dalam sistem perawatan paliatif.
Jepang mengintegrasikan perawatan paliatif ke dalam sistem JKN-nya (sistem asuransi kesehatan nasional) — memastikan tidak ada pasien yang ditolak hanya karena biaya.
Semua ini dimulai dari satu hal yang sama: kesadaran masyarakat yang mendorong perubahan kebijakan.
Apa yang Harus Terjadi di Indonesia?
Melihat kondisi global dan lokal, ada beberapa langkah strategis yang perlu diambil:
- Perluasan akses — paliatif harus tersedia di setiap kabupaten/kota, tidak hanya di kota besar
- Reformasi daftar obat esensial — opioid untuk nyeri harus masuk dan bisa diakses
- Integrasi ke kurikulum — semua dokter, perawat, dan bidan harus mendapat pendidikan dasar paliatif
- Cakupan JKN — seluruh layanan paliatif esensial harus ditanggung jaminan kesehatan nasional
- Kampanye kesadaran publik — masyarakat harus tahu bahwa mereka berhak mendapat perawatan paliatif
Suara Anda Bermakna
Perubahan sistem tidak terjadi dalam semalam. Tapi sejarah telah berulang kali membuktikan: perubahan dimulai dari masyarakat yang sadar dan bersuara.
Berbagi artikel ini. Bicarakan paliatif di komunitas Anda. Tanyakan kepada fasilitas kesehatan Anda. Dukung tenaga medis yang memperjuangkan akses paliatif yang lebih baik.
Karena setiap orang Indonesia yang menghadapi penyakit serius berhak mendapat perawatan yang bermartabat — di manapun mereka tinggal.
Indonesia sedang berjalan. Langkahnya belum cukup cepat. Tapi dengan kesadaran bersama, kita bisa mempercepat perjalanan itu.
- Indonesia
- global paliatif
- kebijakan kesehatan
- akses
- advokasi
- WHO 2025
Sumber
Journal of Pain and Symptom Management 2025, Atlas of Palliative Care in Asia Pacific 2025, ASCO Connection, F1000Research 2025
