Latar Belakang
Kisah di Balik Paliatif Tzu Chi Indonesia
Sebuah perjalanan dari sebutir tahi lalat di telapak kaki, hingga ke koridor lantai dua belas — tempat para pasien menerima sesuatu yang lebih dari sekadar perawatan: martabat hingga napas terakhir.

Surat Izin Hidup
Perjalanan Dr. Yasavati Kurnia, Penyintas Melanoma yang Menjadi Pelopor Paliatif Tzu Chi Indonesia
Ada sesuatu yang tidak lazim di telapak kaki itu. Bukan nyeri. Bukan gatal. Hanya sebuah tahi lalat kecil — begitu kecil sehingga Dr. Yasavati Kurnia hampir tidak pernah memperhatikannya. Ia ada di sana, tersembunyi di bawah setiap langkah yang ia ayunkan sebagai dokter yang sibuk, dosen yang aktif, istri yang berbahagia.
Tahun 2006. Yasavati berusia di penghujung tiga puluhan. Kariernya berjalan baik sebagai dokter sekaligus pengajar di UKRIDA Jakarta. Tidak ada waktu untuk berhenti. Tidak ada alasan untuk khawatir tentang sebuah tahi lalat kecil di bawah kaki. Tetapi tubuh punya caranya sendiri untuk berbicara.
Diagnosis yang Menghentikan Napas
Lama-kelamaan, karena sering tergesek-gesek saat berjalan, sel-sel di sekitar tahi lalat itu mulai berubah. Perlahan. Diam-diam. Sampai pada suatu titik, perubahan itu tidak bisa diabaikan lagi.
Hasilnya menghentikan napas siapa pun yang membacanya: Melanoma Maligna Stadium 2B.
Bagi seorang dokter, diagnosis itu bukan sekadar kata-kata dalam lembar hasil pemeriksaan. Yasavati mengerti sepenuhnya apa yang sedang ia hadapi. Melanoma adalah salah satu kanker kulit paling ganas yang dikenal — sel-sel pigmen yang bermutasi dan mampu menyebar ke paru-paru, otak, hati, tulang.
“Penyakit itu enggak bisa memilih kepada siapa dia mau hinggap. Jadi ya saya ini adalah nasib saya. Kalau dikatakan nasib, kita harus jalani dengan baik.”
Yang Pertama Ia Pikirkan Bukan Dirinya
Di tengah badai diagnosa kanker yang paling menggetarkan, pikiran pertamanya adalah suaminya. Bagaimana cara memberitahunya. Bagaimana menyampaikan berita yang berat itu tanpa menghancurkan dunianya.
Pengobatan pun dimulai. Operasi pengangkatan kanker. Cangkok kulit untuk menutup area yang telah diangkat. Kemoterapi — racun yang membunuh sel kanker sambil menyeret sel-sel sehat bersamanya, meninggalkan tubuh yang lemah, rambut yang rontok, mual yang tak henti.
Selama berbulan-bulan, Yasavati menjalani semua itu — dengan dukungan suaminya, dengan bantuan sahabat-sahabat dekat, dengan bimbingan Dr. Chew di Singapura dan para spesialis yang memegang hidupnya dengan tangan yang terampil dan hati yang penuh perhatian.
Pelajaran yang Tidak Ada di Buku Teks
Selama bertahun-tahun sebagai dokter, ia terbiasa menjadi pihak yang tahu — yang menjelaskan, yang memutuskan, yang mengarahkan. Kini, ia adalah pihak yang tidak tahu — yang harus menyerahkan kendali kepada orang lain, yang harus belajar mempercayai, yang harus menghadapi ketidakpastian yang tidak bisa ia pecahkan dengan logika ilmiah.
Di sela-sela sesi kemoterapi, Yasavati mengamati dirinya sendiri dengan mata seorang dokter dan hati seorang pasien. Dua perspektif yang selama ini terpisah itu, kini menyatu dalam satu tubuh yang sedang berjuang. Dan dari persatuan itu, lahirlah pemahaman yang akan membentuk filosofi perawatannya untuk dekade-dekade ke depan.
Meditasi Afirmasi — Menemukan Suara di Dalam
Yasavati adalah seorang Buddhis. Tetapi seperti banyak orang dewasa yang hidupnya dipenuhi kesibukan, ia jarang benar-benar bermeditasi. Setiap kali mencoba duduk diam, pikirannya langsung berpacu.
Tapi kanker memberikan sesuatu yang tidak pernah bisa diberikan oleh jadwal padatnya: keheningan paksa. Di hari-hari ketika tubuhnya terlalu lemah untuk bekerja, ia menemukan cara baru untuk duduk diam — sebuah "meditasi afirmasi". Ia berbicara kepada dirinya sendiri.
“Saya katakan, ya, selama ini memang saya lupa bahwa di dalam fisik tubuh ini ada yang selama ini saya abaikan.”
Kesembuhan, dan Sebuah Benih yang Ditanamkan
Kesembuhan itu datang di tahun yang sama. 2006 — tahun yang dibuka dengan diagnosis yang mengerikan, ditutup dengan kabar yang luar biasa: sel-sel kanker itu bisa dikendalikan.
Tetapi tubuh yang sembuh tidak berarti langsung kembali bekerja. Saat itulah ia mulai mengenal DAAI TV. Di layar itu, Yasavati melihat sesuatu yang belum pernah benar-benar ia perhatikan sebelumnya: Tzu Chi. Sebuah organisasi kemanusiaan Buddhis yang lahir dari Taiwan, dengan jutaan relawan yang mendedikasikan hidup mereka untuk meringankan penderitaan sesama.
Episode demi episode, Yasavati menyerap cerita-cerita tentang cinta kasih tanpa batas. Dan di dalam hatinya yang sedang dalam proses penyembuhan, sebuah benih ditanamkan.
"Surat Izin Hidup"
Ketika luka-lukanya mulai mengering, Yasavati membuat keputusan yang akan mengubah sisa hidupnya. Ia menyebutnya dengan frasa yang mengena dan sedikit jenaka, diucapkan sambil tertawa kecil: "Surat izin hidup."
Bagi Yasavati, kesembuhan dari melanoma bukan hanya prestasi medis. Ia adalah sebuah mandat. Sebuah kepercayaan yang harus dipertanggungjawabkan. Jika takdir memilih untuk memperpanjang izinnya di dunia ini, maka ia tidak akan menyia-nyiakan perpanjangan itu.
Ia mendaftar menjadi relawan Tzu Chi.
“Saya pikir saya dikasih kesempatan baik untuk meneruskan hidup saya. It must be very helpful untuk other people.”
Berjalan di Koridor Hualien
Tzu Chi memiliki jaringan rumah sakit di Taiwan yang terkenal dengan layanannya yang luar biasa — dan salah satu keistimewaan terbesar adalah unit paliatif mereka. Yasavati pergi ke Taiwan, mengunjungi langsung rumah sakit Tzu Chi di Hualien, di Taipei, di kota-kota lain.
Ia berjalan di koridor-koridor itu. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ruang paliatif dirancang bukan sebagai tempat yang suram dan steril, melainkan sebagai ruang yang hangat, penuh cahaya alami, dengan taman di dalamnya. Ia berbicara dengan dokter-dokter paliatif Taiwan yang memandang pekerjaan mereka bukan sebagai kekalahan terhadap penyakit, melainkan sebagai kemenangan demi kemanusiaan.
“Di sana, ketika pasien masuk ke unit paliatif, keluarga tidak menganggap itu merupakan aib. Tidak ada stigma 'menyerah'. Yang ada adalah: kami hadir untuk Anda, sepenuhnya, hingga akhir.”
Membidani Sebuah Transformasi
Yasavati membawa visinya kepada dr. Gunawan, Sp.BS — pimpinan yang berwenang di Tzu Chi Hospital. Ia mau "membidani transformasi" filosofi paliatif Tzu Chi dari Taiwan ke bumi Indonesia.
Membangun sesuatu dari hampir tidak ada membutuhkan lebih dari sekadar visi. Ia membutuhkan kesabaran, negosiasi, pendidikan — menjelaskan kepada banyak pihak bahwa paliatif bukan tentang menyerah, bahwa paliatif bukan ruang tunggu kematian, bahwa paliatif adalah seni memanusiakan manusia di saat-saat yang paling rentan dalam hidupnya.
Yasavati mempersiapkan tim: dokter, perawat, psikolog, konselor spiritual, dan relawan — karena ia tahu bahwa paliatif yang sejati tidak bisa dilakukan sendirian, dan tidak bisa dilakukan hanya oleh satu disiplin ilmu.

Sabtu, 15 Oktober 2022
Lantai 12 Tzu Chi Hospital, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Hari itu, sebuah mimpi yang telah dipelihara selama bertahun-tahun akhirnya mendapatkan alamat fisiknya.
Peresmian Unit Paliatif Tzu Chi Hospital dirayakan dengan penuh kesederhanaan dan kekhidmatan. Yasavati Kurnia secara simbolis menyerahkan kunci mobil layanan home care kepada Liu Su Mei, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Sebuah gestur kecil yang menyimpan makna yang sangat besar.
Unit yang diresmikan hadir dengan wajah yang Yasavati impikan: 16 tempat tidur rawat inap, 2 poliklinik, 1 ruang terapi, 1 ruang konseling keluarga. Terdapat taman kecil yang hijau, ruang doa dan meditasi, dan ruang tunggu keluarga yang nyaman. Dan ada sesuatu yang tidak bisa diukur dengan spesifikasi teknis: ada kasih sayang yang mengalir di setiap sudutnya.


Sebuah Pernyataan Revolusioner
Setiap pasien berhak menjalani sisa hidup dengan bermartabat tanpa rasa takut dan kesakitan.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi di negara di mana pembicaraan tentang kematian masih sering dihindari seperti wabah, kalimat itu adalah pernyataan revolusioner.
Untuk setiap pasien — yang menderita akibat penyakit serius — layanan paliatif Tzu Chi menawarkan sesuatu yang komprehensif: konsultasi medis untuk mengelola gejala fisik, pendampingan emosional untuk mengelola rasa takut, dukungan spiritual yang menghormati setiap keyakinan.
Tiga Bulan Setelah Kematian
Layanan paliatif Tzu Chi tidak berhenti pada saat pasien menutup mata. Yasavati dan timnya memahami sesuatu yang sering dilupakan: bahwa kematian seorang pasien tidak mengakhiri penderitaan. Ia sering memindahkannya — ke pundak keluarga yang ditinggalkan.
Di saat sebagian besar sistem kesehatan menganggap tugasnya selesai begitu pasien pergi, tim paliatif Tzu Chi masih ada. Masih menelepon. Masih berkunjung. Masih menemani ibu yang tidak bisa menerima kepergian anaknya. Masih mendampingi suami yang tidak tahu bagaimana melanjutkan hidup tanpa istrinya.
Ini bukan layanan medis. Ini adalah cinta yang terorganisir.
“Setelah kematian, kita tetap mengunjungi di rumah duka, dan memberikan assistance — sampai 3 bulan setelah kematian.”
Pesan untuk Mereka yang Sedang Berjuang
Dari semua perjalanan itu — dari tahi lalat di telapak kaki, ke ruang operasi, ke hari-hari pemulihan dengan DAAI TV, ke peresmian di lantai 12 yang bersejarah — Yasavati akhirnya menuangkan semuanya dalam sebuah buku.
Ada ilmu di balik kata-katanya. Psiko-onkologi telah lama mendokumentasikan bagaimana distres emosional dapat mempengaruhi sistem imun, bagaimana depresi dan kecemasan yang tidak tertangani dapat memperburuk outcome pasien kanker. Yasavati tidak sedang berbicara metaforis semata. Ia sedang berbicara ilmiah, sekaligus personal.
“Sadar diri, berdoa secara agama apapun, dan happy supaya sel-sel kankernya takut sama Anda. Kalau you sedih, sel kankernya yang menang. Kalau itu semua disadari dan dijalani, survivor akan menanti Anda.”

Sebuah Tahi Lalat Kecil yang Mengubah Segalanya
Di lantai 12 Tzu Chi Hospital, di balik jendela-jendela yang menghadap langit Jakarta, seorang dokter kecil bertubuh ramping terus berjalan dari ruangan ke ruangan. Memeriksa. Mendengar. Mendampingi.
Tahi lalat kecil di telapak kaki itu, dua dekade lalu, telah mengubah seorang dokter biasa menjadi seseorang yang luar biasa. Tidak karena ia sempurna. Tidak karena ia tidak pernah takut.
Tetapi karena ketika takdir memberinya "surat izin hidup" itu, ia memilih untuk menggunakannya — bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk semua orang yang belum mendapat kesempatan yang sama.
Dan itu, mungkin, adalah definisi paling nyata dari pelayanan paliatif yang sesungguhnya: hadir bagi sesama, sepenuh hati, hingga napas terakhir.
“Hadir bagi sesama, sepenuh hati, hingga napas terakhir.”
Dr. Yasavati Kurnia · Pelopor Paliatif Tzu Chi Hospital

