Kembali ke Panduan
Panduan Pendamping: Perawatan Bowel (Pencernaan & BAB)
Masalah buang air besar sangat umum pada pasien paliatif — terutama konstipasi akibat opioid, imobilisasi, dan kurang minum. Inkontinensia (berak tidak terkontrol) juga bisa terjadi pada fase lanjut. Kedua kondisi ini mempengaruhi kenyamanan dan martabat pasien secara signifikan. Pengelolaan yang baik adalah bagian penting dari perawatan paliatif berkualitas. Panduan ini tidak menggantikan saran medis profesional.
1Mengelola Konstipasi (Sembelit)
Mengapa Konstipasi Sangat Umum pada Pasien Paliatif?
Hampir semua pasien yang menggunakan opioid (morfin, kodein, oxycodone) akan mengalami konstipasi. Ini bukan efek samping yang 'menghilang sendiri' — ia akan menetap selama opioid diminum.
- Opioid: memperlambat gerakan usus secara signifikan — HAMPIR SELALU menyebabkan konstipasi
- Imobilisasi / tirah baring: gerakan usus berkurang
- Kurang minum: tinja menjadi keras
- Kurang serat
- Obat-obatan lain: antidepresan, antikolinergik, beberapa antiemetik
- Penyakit itu sendiri: tumor menekan usus, gangguan saraf
Strategi Non-Obat
- Pastikan pasien cukup minum: 1.5–2 liter/hari kecuali ada pembatasan cairan
- Dorong aktivitas fisik ringan jika memungkinkan: duduk, berjalan pendek
- Posisi toileting yang tepat: kaki sedikit ditinggikan (bangku kecil) meniru posisi jongkok — memudahkan BAB
- Pijat perut searah jarum jam lembut selama 10–15 menit
- Respons segera terhadap keinginan BAB — jangan ditunda
- Privasi saat toileting — pasien sulit BAB jika tidak merasa privat
Obat Pencahar (Laksatif) — Diskusikan dengan Dokter
- Pasien yang minum opioid HARUS mendapat laksatif pencegahan bersamaan — jangan tunggu konstipasi terjadi
- Laksatif lunak (stool softener): docusate sodium — melunakkan tinja
- Laksatif osmotik: laktulosa, PEG (polyethylene glycol) — menarik air ke usus
- Laksatif stimulan: senna, bisacodyl — merangsang gerakan usus
- Jika tidak BAB >3 hari: hubungi tim medis
- Jangan gunakan laksatif lebih dari dosis yang direkomendasikan tanpa konsultasi
JANGAN memberikan laksatif jika pasien mengalami nyeri perut berat, mual, atau kembung tiba-tiba — bisa ada obstruksi usus. Hubungi tim medis segera.
2Mengelola Diare
Penyebab Diare pada Pasien Paliatif
- Terlalu banyak laksatif (laksatif overdose)
- Fecal impaction (feses keras yang keras di rektum dengan diare cair di sekitarnya)
- Infeksi (C. difficile sangat umum setelah antibiotik)
- Kemoterapi atau radioterapi
- Malabsorpsi dari penyakit gastrointestinal
Perawatan Diare di Rumah
- Jaga hidrasi: tawarkan air, kaldu bening, oralit
- Makan makanan ringan: nasi putih, pisang, roti tawar, sup bening (diet BRAT)
- Hindari susu dan produk susu sementara
- Ganti pakaian dan sprei yang terkontaminasi segera
- Bersihkan area perianal dengan lembut setiap setelah BAB — keringkan dengan baik
- Oleskan krim penghalang (barrier cream) seperti zinc oxide di area perianal
Jika diare disertai darah, demam tinggi, atau pasien tampak sangat lemas — segera hubungi tim medis.
3Mengelola Inkontinensia Fekal
Perawatan Inkontinensia dengan Martabat
- Gunakan underpad (perlak) sekali pakai di bawah pasien untuk melindungi tempat tidur
- Popok dewasa (adult diapers) atau celana dalam tahan air: ganti segera setiap kali kotor
- Bersihkan area perianal segera dan menyeluruh setiap kali kotor — gunakan air hangat dan sabun lembut
- Keringkan area dengan tepukan lembut — jangan menggosok kulit yang meradang
- Oleskan barrier cream setiap kali selesai membersihkan
- Jangan biarkan kulit terkena kontak feses yang lama — ini penyebab utama luka kulit (moisture-associated skin damage/MASD)
Ada pertanyaan lebih lanjut?
Tim kami siap membantu Anda kapan saja.
