Tujuan Perawatan Lansia: Shared Decision Making Geriatri
Menetapkan tujuan perawatan bersama lansia yang sakit serius adalah salah satu tugas paling bermakna dalam praktik paliatif geriatri. Ini bukan tentang memilih antara 'bertahan hidup' atau 'menyerah', melainkan tentang memahami apa yang paling berarti bagi lansia dan memastikan setiap keputusan medis mencerminkan nilai-nilai tersebut. Perencanaan yang proaktif — dilakukan sebelum krisis terjadi — memberikan rasa kendali dan ketenangan bagi pasien dan keluarga. Panduan ini bersifat informatif dan tidak menggantikan diskusi dengan tim paliatif.
Daftar Isi
1Kerangka Tujuan Perawatan pada Lansia
Tiga Orientasi Tujuan Perawatan
Tujuan perawatan pada lansia sering dapat dikategorikan dalam tiga orientasi yang mungkin bergeser seiring perjalanan penyakit:
- Orientasi Kuratif/Restorasi: fokus pada penyembuhan atau pemulihan fungsi penuh — umumnya di awal penyakit
- Orientasi Pemeliharaan Fungsi: fokus pada mempertahankan fungsi dan kemandirian selama mungkin — umumnya pada penyakit kronis
- Orientasi Kenyamanan: fokus pada kualitas hidup, kenyamanan, dan makna — tanpa mengejar perpanjangan hidup yang agresif
Advance Care Planning untuk Lansia
Advance care planning adalah proses berkelanjutan di mana lansia dan keluarga mendiskusikan nilai, preferensi, dan keputusan perawatan di masa depan — idealnya sebelum kondisi memburuk.
- ACP paling efektif dilakukan saat lansia masih relatif sehat dan dapat berpartisipasi penuh
- ACP bukan tentang 'menyerah' — ini tentang memastikan suara lansia tetap didengar bahkan jika tidak bisa berbicara lagi
- Dokumen ACP termasuk: surat wasiat medis, penunjukan wali medis, preferensi resusitasi
- ACP adalah percakapan yang berkelanjutan, bukan dokumen sekali tanda-tangan
- Libatkan semua anggota keluarga yang relevan dalam diskusi ini
2Percakapan Sulit dalam Perawatan Geriatri
Diskusi tentang Resusitasi (CPR)
Diskusi tentang resusitasi (CPR / RJP) adalah salah satu percakapan yang paling sering dihindari namun paling penting dalam perawatan geriatri paliatif.
- CPR pada lansia dengan penyakit serius memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih rendah dari yang digambarkan di televisi
- Efek CPR termasuk: patah tulang rusuk, cedera otak, masa pemulihan ICU yang panjang
- Keputusan tentang CPR harus didasarkan pada nilai lansia, bukan hanya kemungkinan keberhasilan medis
- DNR (Do Not Resuscitate) bukan berarti 'jangan diobati' — semua perawatan lain tetap berlanjut
- Diskusikan sebelum darurat terjadi agar keputusan bisa dibuat dengan tenang
Diskusi tentang Ventilator dan ICU
Keputusan tentang apakah akan menggunakan ventilator atau masuk ICU memerlukan pertimbangan yang jujur tentang manfaat dan beban yang realistis bagi lansia.
- Tanyakan kepada dokter: 'Apa yang realistis diharapkan dari perawatan ICU untuk kondisi ini?'
- Pertimbangkan: apakah kualitas hidup setelah ICU kemungkinan dapat memuaskan bagi lansia?
- Diskusikan preferensi lansia tentang tingkat intervensi yang diinginkan sebelum kondisi kritis
- Keputusan tidak harus 'semua atau tidak sama sekali' — bisa ada middle ground yang sesuai
Diskusi tentang Pilihan Tempat Meninggal
Sebagian besar lansia lebih memilih untuk meninggal di rumah atau di lingkungan yang familiar, namun kenyataannya masih banyak yang meninggal di ICU. Mendiskusikan preferensi ini jauh lebih baik dari menghindarinya.
- Tanyakan kepada lansia: 'Jika saatnya tiba, di mana Bapak/Ibu ingin berada?'
- Diskusikan apa yang diperlukan untuk mewujudkan preferensi tersebut
- Pertimbangkan layanan hospice di rumah atau fasilitas paliatif jika tersedia
- Buat rencana yang realistis yang melibatkan semua pihak yang relevan
3Klarifikasi Nilai: Apa yang Paling Penting
Pertanyaan untuk Memandu Diskusi Nilai
Pertanyaan-pertanyaan ini — diajukan dalam percakapan yang tenang dan tidak terburu-buru — membantu mengklarifikasi apa yang benar-benar penting bagi lansia.
- 'Apa yang memberikan makna dan kebahagiaan dalam hidup Bapak/Ibu?'
- 'Hal-hal apa yang benar-benar tidak bisa Bapak/Ibu bayangkan hidup tanpanya?'
- 'Apa yang paling Bapak/Ibu takuti tentang kondisi ini?'
- 'Bagaimana Bapak/Ibu mendefinisikan kualitas hidup yang baik untuk diri sendiri?'
- 'Apakah ada hal yang ingin Bapak/Ibu selesaikan atau alami sebelum waktunya tiba?'
- 'Apa harapan Bapak/Ibu untuk orang-orang yang Bapak/Ibu tinggalkan?'
Ada pertanyaan lebih lanjut?
Tim kami siap membantu Anda kapan saja.
